Thursday, February 9, 2017

Cerpen Masjid Biru

pustaka online | 5:01 PM | Be the first to comment!
Cerpen Masjid Biru 

binginrupit.com - ''Hallo, siapa namamu anak manis'', tanya seorang anak muda sambil berjongkok memegang tangan Juang yang duduk kecapaian di kursi dorong. Waktu itu kami sedang berjalan menuju Masjid Biru, usai menikmati kemegahan Aya Sofia di pusat kota kuno Istambul. Kami cuma tersenyum dingin, dan meneruskan perjalanan, sedang Juang bengong tanpa ekspresi karena rasa kantuk mulai menyerang --sesuai siklus jam tidurnya.
Setelah empat hari berlanglang-buana di kawasan wisata Istambul, kami sepertinya sudah teruji kebal dari segala macam tehnik marketing orang Istambul, yang harus diakui memang sungguh ampuh. Lagipula ada informasi pengantar dari istriku --yang cenderung mengamini semua hal yang tercetak di buku. Menurut sebuah buku andalannya, terbitan Periphulus, seorang anak Istambul yang berusia sepuluh tahun mampu merayu turis untuk membeli satu kantung kertas tissu atau satu kotak kartu pos dengan menggunakan lima bahasa utama; Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, dan Spanyol. Dan untuk pertama kalinya --menurutku-- sebuah buku mengandung kebenaran.
Kami, yang kemudian ekstra hati-hati, sudah menemukan seorang anak kecil yang mencoba tiga bahasa karena kami membatu tidak menjawab. Lantas seorang remaja memamerkan kefasihan berbahasa Melayu, yang tampaknya ia gunakan menangkap turis Malaysia. Anak remaja itu berusaha menjual satu set perlengkapan minum teh ala Turki. ''Bisa untuk Ibu Mertua,'' katanya fasih. Aku --walau sedikit kagum-- cuma sekedar bilang ''good boy,'' dan berhasil untuk tidak singgah ke tokonya. Itu masih anak kecil dan remaja, sedang yang dewasa taktiknya macam-macam, walau ternyata, sejauh ini, kami teruji kebal.
Memang buatku beli-membeli ini sudah jadi semacam perang antar dua musuh bebuyutan; ada yang kalah dan ada yang menang. Bukan sekedar barter yang saling menguntungkan. Dan dalam perang itu aku tidak mau kalah
Jadi ketika anak muda tadi terus melempar senyum pada Juang, sambil mengusap-usap kepala Juang, aku dan istriku tidak bergeming. Istriku --yang sejak awal sudah menghitung sendiri kalau bonus sepuluh tahunku hanya cukup untuk tiket dan akomodasi-- semakin cepat mendorong kereta Juang.
Aku berjalan lebih ringan di belakang mengamati anak muda yang kira-kira berusia duapuluh limaan. Rambutnya disisir rapi berbelah kanan, jaket kulit coklatnya kekar tapi halus, dan sepatu tanpa tali yang sportif aku tebak merk Clark --paling tidak tiruan Clark yang berhasil. Ia tampak berbeda dari para pedagang Turki lainnya di taman penghubung Aya Sofia dan Masjid Biru.
''Tuan dari Jepang atau Malaysia,'' kata anak muda itu mengalihkan perhatian. Istriku mendengar dan melirik ke belakang sambil memicingkan mata, menarik sedikit ujung kanan bibirnya. ''Indonesia,'' kujawab tegas tanpa senyum, sebagai isyarat yang cukup jelas untuk tidak tertarik pada pembicaraan perdagangan lebih lanjut.
Jelas orang Istambul yang bermotif dagang cuma segelintir. Buktinya, kami sudah berkenalan dengan seorang ibu dan seorang karyawati di bis kota waktu kebingungan memastikan halte bis tujuan. Keduanya amat manis dan amat menolong sampai memberi tahu pada supir bis agar berhenti di halte tujuan.
Bahkan si karyawati yang sedang istirahat makan siang ikut turun, mengantar ke depan pintu museum Attaturk, memberi tahu nomor bis pulang, sekaligus membelikan karcis pulang, dan meninggalkan nomor telepon jika diperlukan. Gerak-gerik si ibu dan karyawati itu natural dan indah --karena wajah dan badan keduanya merupakan potret sejati percampuran Asia dan Eropa. Aku bahkan sudah merencanakan makan malam bersama si karyawati itu, Hurai Kasilcik, sebelum pulang.
Soalnya adalah kontak manis seperti itu jelas bukan kontak di kawasan objek wisata. Di sini motifnya menjual, atau kalau bisa sekedar satu tingkat lebih baik dari nodong ; mendapat uang tanpa menjual apapun. Masih ada lagi anak-anak pengemis --yang sebenarnya sudah sangat biasa buat orang Jakarta kayak kami-- tapi di sini terornya lebih memukul. Aku pernah memberikan dua ratus lima puluh ribu Lira Turki, atau sekitar lima ratus rupiah, kepada seorang anak pengemis dan segera saja enam anak pengemis lain mengepungku. Bahkan seorang anak perempuan menggantung sambil tertawa besar di jaketku ketika aku berusaha membebaskan diri.
Dalam urusan perdagangan, aku pernah masuk ke sebuah toko barang antik yang menjual kap lampu gaya Persia. Sekedar melihat karena garis lekuk-lekuk peraknya sehalus lukisan-lukisan Romawi, dan toko itu --buatku-- ibarat sebuah museum kecil. Cuma keluar dari toko aku diikuti sampai sekitar dua puluh meter, dan ditontoni pedagang lainnya yang sedang sepi pembeli. Seolah-olah aku baru saja melanggar persetujuan dagang besar, yang nyaris tergolong kriminalitas.
Itulah sebabnya akupun meragukan motif dari orang yang aktif menyapa kami di salah satu kawasan wisata utama. ''Presiden Soekarno dan Suharto sudah pernah ke Istambul,'' tambah anak muda itu bersemangat, sedangkan aku makin ogah-ogahan. ''Oh iya.'' Persis pada waktu itu kami melewati kolam air mancur dan Juang tiba-tiba hidup kembali dari kantuknya, maju lepas dari sandarannya, berteriak; ''Air mancur, turun Mamak.''
Si anak muda tadi langsung mendekat ke Juang, melepas ikatan kursi dan menggendongnya ke tepi kolam air mancur. Seruan istriku ''No, no,'' tidak diperdulikannya. Aku agak kesal, mendekatinya, dan dengan nada suara otoritatif dalam bahasa Inggris yang tegas --supaya si anak muda itu mengerti walau Juang jelas tidak mengerti-- ''Juang, we are going to Blue Mosque.''
Si anak muda itu melirik tesenyum; ''Masjid Biru tutup untuk sembahyang dan baru satu jam lagi buka.'' Aku tersadar memang sedang mendengar suara azan lohor. Istriku tersenyum pasrah, kalah, melihat Juang sudah tertawa besar berdiri di tepi kolam air mancur sambil berpegangan tangan dengan si anak muda tadi. Aku duduk di kursi taman, istriku ikut pula duduk sambil membuka kembali buku saktinya, membolak-balik sebentar, dan ; ''Tehnik pendekatan pada anak belum ditemukan penulis buku ini,'' komentarnya serius. ''Kalau begitu kita yang menemukan,'' kujawab kesal.
Aku kemudian berpikir apa yang bakal dijual si anak muda ini. Kemungkinan besar dia bagian dari perdagangan jaket kulit. Banyak sekali orang-orang yang mendekati turis-turis untuk mempromosikan toko jaket kulit masing-masing. Dan semuanya yang termurah. ''The cheapest in town Sir,'' begitulah iklan mereka. Dan jaket kulit coklat si anak muda yang halus membuat dugaanku cukup beralasan. Tapi aku dan istriku sama sekali tidak pernah tertarik pada jaket kulit.
Kulihat Juang sudah benar-benar hidup di tengah-tengah siklus tidur siangnya. Ia berlari-lari mengelilingi kolam air mancur dan anak muda tadi berlari-lari kecil mengikuti. Aku berdiri melarangnya, supaya tidak terlalu banyak terbeban jasanya; ''Biarkan saja dia sendiri.''
Anak muda itu kemudian mendekat ke kursi. ''Apa saya boleh mengganggu anda untuk belajar Bahasa Inggris,'' tanyanya sopan, lembut. Aku pikir masih empat puluh lima menit lagi sebelum Masjid Biru buka, jadi biarkan saja. Toh kalau dia mau menjual jaket kulit sudah pasti gagal. ''Silahkan,'' kataku menggeser pantat memberi ruang untuk duduk.
''Nama saya Engin, gampang mengingatnya seperti Engine dalam bahasa Inggris,'' katanya menjulurkan tangan. Aku perkenalkan diriku singkat dan membiarkan dia memimpin pembicaraan. ''Saya mahasiswa Satsra Inggris, kalau sedang ada waktu luang saya suka berlatih langsung menggunakan Bahasa Inggris,'' lanjutnya seolah-olah mengerti kalau dialah yang memang harus memperpanjang pembicaraan. Dia kemudian bercerita tentang pentingnya Bahasa Inggris di Istambul yang mengandalkan devisa dari turis asing, dan menuding lemahnya kemampuan Bahasa Inggris orang Istambul yang membuat Istambul gagal terpilih jadi tuan rumah Olimpiade 2004.
Aku mendengar celoteh Engin dengan sayup-sayup sambil mengamati empat menara Masjid Biru yang menjulang tinggi ke angkasa. Merayap ke atas, berupaya sedekat mungkin ke langit supaya teriakan umat manusia lebih mudah terdengar oleh Tuhan di atas sana. Suara Engin terdengar seperti ekor-ekor gema dari suara utama yang sekuat tenaga sedang menggeliat naik ke atas langit.
''Lantas kamu nanti mau jadi apa?'' tanya istriku yang membuat aku tersadar pada pembicaran di bumi nyata. Sebelum menikah, istriku bercita-cita jadi penulis buku perjalanan supaya bisa jalan-jalan keliling dunia tanpa harus keluar uang sepeserpun. Setelah kawin --dengan seorang wartawan kebanyakan-- cita-cita itu praktis jadi impian kosong. Namun masih ada sekeping kecil yang tersisa. Dia, menurutku, sok pingin tahu tentang potret orang setempat. Dan Engin rupanya sudah dianggap sumber yang aman.
''Kalau bisa bahasa Inggris relatif gampang mencari pekerjaan di Turki, tapi saya mau jadi guru Bahasa Inggris, punya kursus bahasa sendiri'' jawab Engin. Terjalinlah kemudian dialog antara istriku dengan Engin. Artinya aku harus mengambil-alih pengamatan atas Juang yang makin liar berlari-lari di sekeliling kolam air mancur.
Sementara itu dialog Engin dan istriku terdengar makin hangat. Mereka mulai memasuki pembahasan tentang ditolaknya permohonan Turki untuk menjadi anggota Uni Eropa. Yang kudengar Engin menegaskan kalau Turki tidak akan bisa jadi anggota masyarakat internasional kalau mayoritas rakyatnya belum bisa Bahasa Inggris. Tapi istriku, yang melalap habis buku tentang Turki sebelum berangkat, membantah argumentasi naif itu dan menyodorkan masalah pertumbuhan ekonomi Turki yang, kata istriku, tak sampai 5 % sementara inflasi tahun 1998 sampai 93 %. "Itu menurut data The Economist," tambah istriku.
Aku kaget, dan melirik tajam istriku sambil mengerutkan kening ; 'elo memang tau atau sok tau?' Ia langsung menjawab ringan, pakai Bahasa Indonesia; ''Aku rasa dia bukan pedagang kok Pak, tenang saja.''
Engin tidak mau kalah dan punya argumen lain, ''Tapi siapa bilang pertumbuhan ekonomi Ceko jauh lebih baik dari Turki dan mereka nyatanya dipertimbangkan jadi anggota baru Uni Eropa. Saya yakin bahasa Inggris orang Ceko lebih baik dari orang Turki.''
Aku merasa alasan Engin terlalu lugu, walau memang masuk akal. Dan sebagai wartawan aku merasa punya otoritas lebih dari mereka berdua. Jadi sebelum beranjak mendekati Juang, kukatakan ''Catatan Hak Asasi Manusia Turki juga belum begitu bagus.'' Harapanku mereka segera beranjak ke tema lain, yang lebih cocok dengan kapasitas mereka.
Engin mengangkat kedua tangannya, ''itu kan cuma alasan ideologis yang didramatisir. Alasan praktisnya bagaimana mungkin menjadi satu kelompok kalau berkomunikasi dalam satu bahasa saja belum bisa,'' katanya ngotot.
''Ya tapi anda harus sadar kalau trend di Uni Eropa saat ini ya Hak Asasi Manusia. Mereka bahkan sudah bikin Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa dengan kriteria standard,'' kataku sedikit panas karena merasa otoritasku tertantang.
''Baik, baik, sekarang kamu Engin lebih suka Turki masuk Uni Eropa atau tidak,'' sela istriku tegas untuk menyingkirkan aku dari perdebatan mereka. Aku melirik jam, pukul tiga lewat sepuluh menit, jadi masih ada sekitar dua puluh menit lagi mereka bakal berdebat. Tapi diam-diam akupun mulai yakin kalau Engin bukan pedagang. Seorang mahasiswa energetik yang berani punya pendapat, seperti ibu dan karyawati yang membantu kami.
Haapannya Turki bisa masuk Uni Eropa , tapi harus sesegera mungkin supaya Turki jangan menjadi anggota kelas dua yang tidak punya hak veto. ''Kalau cuma mengikuti apa yang dikatakan negara-negara Eropa Barat untuk apa? Harus sejajar posisinya.'' katanya. Aku melihat ke arahnya sambil mengangguk kecil. Mau tidak mau, aku yang berasal dari negara Asia yang sering dipotret sebagai negara kelas dua, punya sentimen sama.
''Hayo sekarang kalian harus ke Masjid Biru, sepuluh menit lagi sudah buka,'' sentaknya dan ia memanggil Juang. ''Hayo Juang kita pergi.'' Kami berdua terkejut karena Juang ternyata langsung patuh, memegang tangannya, berjalan lurus ke depan. Rasanya sebelum ini tidak pernah Juang langsung mau meninggalkan apa yang sedang ia kerjakan.
Kami berempatpun berjalan santai menuju Masjid Biru sementara istriku melanjutkan eksplorasinya dengan menanyakan keluarga Engin. ''Kami orang Istambul asli, saya anak kedua dari empat bersaudara, kakak perempuan saya sudah menikah, satu anak persis seperti Juang. Kalau orang lihat mereka berdua seperti bersaudara.'' Engin juga bercerita tentang ayahnya yang sudah berusia enam puluh tiga tahun tapi masih keras kepala menghabiskan dua bungkus rokok sehari.
Pintu gerbang Masjid Biru sudah tampak, tapi belum terlihat barisan orang yang keluar usai bersembahyang. Kami berempat melenggang pelan. Hening. Juang, tanpa rasa kantuk lagi, memegang akrab tangan Engin.
Sekitar seratus meter menjelang gerbang Masjid Biru, Engin menghentikan langkahnya, melirik jam tangannya, Swatch, yang bertali warna merah dengan garis-garis biru. ''Sembahyang masih belum selesai, bagaimana kalau kita singgah sebentar di toko karpet kakak saya,'' katanya ringan. Aku dan istriku terhenyak satu detik, dan sebelum mencoba bereaksi, dia sudah berbelok ke kiri, ''Ayo Juang kita minum Coke dulu,'' dan Juang sepertinya sudah tidak akan melepas tangannya dari Engin, walau tanpa tawaran Coke sekalipun. ''Tidak, sama sekali tidak usah membeli,'' tegasnya sambil tersenyum melihat kami berdua tampak kagok.
Istriku mengangkat kedua alisnya. Kalau jaket kulit, aku yakin, sudah pasti gagal, tapi hubungan istriku dengan karpet --yang bermotif orientalis dan sedikit kumal-- agak merepotkanku.
Aku putuskan tidak masuk ke toko karpet kakak-nya Engin, walau ia memaksaku sambil menawarkan teh Turki. Sambil menunggu di luar, aku mulai waswas tapi tetap berharap istriku sekedar berpikir praktis saka. ''Kalaupun ada karpet bagus, uangnya dari mana,'' pikirku.
Di luar toko karpet abangnya Engin --yang sejuta persen aku ragukan kalau si pemilik toko itu benar-benar abangnya-- aku amati turis-turis yang lalu lalang. Ada yang suka rela memutuskan singgah ke sebuah toko, ada yang tadinya cuma melihat-lihat etalase, dan berhasil dirayu masuk, dan tak lama kemudian sudah ke luar dengan menggandeng gulungan karpet kecil. Ada yang cuma memelankan jalannya sedikit dan disambut akrab, lantas masuk toko, dan pulang sudah dengan tas plastik besar dan tebal. Hanya satu orang turis berkumis lebat, dengan puncak hidung tinggi yang lancip, bisa masuk dengan mantap dan keluar sama mantapnya tanpa menenteng barang tambahan apapun. Aku duga turis itu dari Skotlandia, atau setidaknya keturunan Yahudi.
Kulirik jam tanganku, sudah lima belas menit. Tak jauh dari tempatku berdiri, keempat menara Masjid Biru terlihat kokoh dan angkuh untuk menegaskan kalau semua orang, yang bersembahyang ataupun yang sekedar bersenang-senang, harus menginjakkan kaki ke sana. Semua orang yang datang ke Istabul harus tunduk pada kebesaran dan kemegahan Masjid Biru. "Harus!" kata Masjid Biru
Terlintas di benakku betapa besarnya gagasan yang ada di benak Kaisar Ottoman ketika berhasil menaklukkan sebuah kota Kristen penting, Konstantinopel, dan mengubahnya jadi salah satu pusat agama Islam dunia. Ottomanlah yang mengubah penggunaan Aya Sofia dari gereja menjadi masjid. Masjid yang di beberapa sudutnya masih tersisa ornamen-ornamen Kristen. Bijak.
Tapi Masjid Biru adalah kemenangan. Dibangun tahun 1609 dan selesai tahun 1617, pada masa kejayaan, sebagai lambang kekuatan. Masjid Biru dibangun khusus sebagai masjid untuk umat Islam, bukan masjid bekas.
Belum sempat aku habiskan angan-anganku, istriku, Juang, dan Engin sudah muncul. ''Wah ibu pintar sekali memilih karpet, dan juga pintar menawar,'' kata Engin serius. Istriku tersenyum dengan wajah sedikit memerah, ''aku cuma beli yang kecil, cocok untuk di ruang kerjamu,'' katanya malu-malu.
Kuangkat alis mataku dan memutar badan ke arah Masjid Biru sebagai isyarat tegas untuk segera pergi. Juang masih sempat bertahan tidak mau melepas tangan Engin, sampai aku menghitung angka dua dengan nada yang paling otoritatif yang aku bisa. ''Selamat berlibur, dan lain kali kalau perlu bantuan datang saja ke sini, saya siap membantu'' kata Engin puas --paling tidak begitulah menurutku.
Dalam perjalanan ke Masjid Biru, aku tanya juga harganya. ''Lumayan murah kalau lihat kualitasnya, lima puluh dollar tapi aku bisa tawar jadi tiga puluh,'' jawab istriku. Aku tidak tega mengkonversi pengeluaran liburan ke dalam nilai rupiah ketika kurs rupiah anjlok habis-habisan. Jadi aku cuma bilang, ''wah bacaanmu tentang Istambul masih kurang lengkap.'' Istriku diam, juga Juang karena masih terteror sisa-sisa bentakanku.
Aku tatap lagi empat menara Masjid Biru yang semakin dekat. Pada hari keempat --walau harus dengan bantuan Masjid Biru-- kami ditaklukkan keturunan Ottoman.
Karpet itu sendiri memang digelar istriku di ruang kerjaku. Tebal, hangat, dan karena warnanya agak kumal --walau mungkin cuma kumal buatan-- seperti bernyawa sedikit. Amat sedikit, juga hanya aku saja yang bisa mendengarkan sayup sekali cerita-ceritanya --yang tidak terlalu jelas-- tentang masa-masa lalu.
Jadi setiap rindu Masjid Biru aku tiduran di atasnya. Sambil menutup mata rasanya aku bisa melihat kembali empat menara Masjid Biru. Tinggi, megah, kuat, dan anggun dengan langit biru bersih di belakang. Tapi selalu cuma dua tiga kejap, karena langsung digeser wajah Engin.
***

read more...

Cerpen Kuda Enterprise

pustaka online | 4:59 PM | Be the first to comment!
Cerpen Kuda Enterprise

binginrupit.com - Pagi sekali, Herman datang ke rumahku. Wajahnya cerah. Di tangannya ada map hijau. Aku langsung mencium bau penting, atau paling tidak serius. Tanpa basa-basi ia usulkan sebuah ide baru. Yang tadinya terasa penting, atau serius, langsung menjadi sedikit gila, menurutku. Menurutnya? Ide cemerlang.
"Sebentar Man, duduklah dulu. Mau kopi atau te?"
"Sudahlah, tak perlu repot-repot," jawab Herman tergesa-gesa, dan akupun langsung merasa ini pasti jadi masalah. Kalau yang satu menganggap cemerlang dan yang satu lagi menganggap sedikit gila, itulah namanya masalah. Ia menjual gagasan bisnis perkudaan. "Sejak dua hari yang lalu, aku selalu memikirkan ide ini. Aku yakin, usaha ini bakal jadi usaha yang dapat menghasilkan keuntungan besar. Kita akan menjadi kaya, Bung!" Herman berapi-api.

"Bisnis kuda?"
"Ya! Langkah awal yang akan kita susun, yaitu menjadikan kuda sebagai obyek wisata di kota ini. Kita akan membuka rental kuda. Dan kuda ini khusus menyewakan kuda-kuda yang kita miliki. Coba, coba kau bayangkan, teman," Herman bergeser duduk mendekatiku, mencoret-coret. ''Seandainya setiap orang menyewa seekor kuda dengan biaya 15 ribu rupiah perjam, lalu ada lima puluh orang yang menyewa setiap harinya, berapa duit kita akan dapat setiap harinya?" Herman makin girang membayangkan uang dari bisnis ini. Aku diam. "Yakinlah, usaha ini tak bakal sia-sia!"
Herman menatapku, setelah meneguk kopi. Ia serius. Menunggu kalimat apa yang akan keluar dari mulutku. "Oke,..Oke. Aku bisa mengerti ide gilamu itu." Ia terperanjat, tapi tak berkomentar.
"Kalau idemu itu akan diwujudkan, dari mana kita harus mendapat kuda-kuda pilihan. Lalu dimana kita akan membuka bisnis ini. Kita perlu tempat yang strategis, Man."
"Lho, kenapa bingung? Kau kan punya tempat yang cukup besar dan representatif untuk membuka bisnis ini."
"Maksudmu, kantorku?"
"Ya! kenapa?!"
"Tidak, Man. Itu kantor partai. Bukan kantor kuda. Disewa dari uang partai, bukan uang kuda. Duit sewanya dari uang rakyat. Bukan dari kuda!"
"Tapi, kau pemegang kebijakan tertinggi di Partai itu. Bilang saja bisniss ini untuk kesejahteraan anggota partai, kan beres." Herman mempolitisir kepentingannya dengan cabang partai yang aku pimpin.
"Gila kau Man. Tidak bisa!"
"Alaaah, jangan sok idealis, Bung! Kita kan tidak memakai semua ruangan. Yang bagian belakang, di pojok itu kan bisa. Bisa, kan?" Herman sepertinya sudah riset sampai ia tahu persis bagian-bagian kantor itu. Memang, di situ ada ruangan kosong yang bisa saja dipakai untuk apapun.
"Kalau nanti usaha ini sudah besar, kita kan bisa menyewa kantor sendiri. Setuju?!"
Ini sungguh gila, tapi aku pikir soal ruangan bisa juga diakali dan hitung-hitung kelak bisnis kuda itu --kalau berkembang layaknya angan-angan Herman-- tentu jadi salah satu sumber pemasukan buat partai. "Baiklah. Aku sepakat."
Herman bangkit dari kursinya menyalamiku erat dan menggoyang-goyangkan beberapa kali, seolah-olah aku yakin juga dengan kuda enterprise itu, walau sebenarnya aku berharap juga kalau besok dia sudah lupa dan datang lagi dengan bisnis baru, yang sama sekali tidak perlu ruang kantor.

"Setelah cukup maju, kita akan membuka lagi jual beli kuda. Untuk sementara waktu kita akan sosialisasikan kuda sebagai kenderaan alternatif yang bebas polusi.
"Bebas Polusi?"
"Ya, bebas polusi. Kuda kan tidak seperti helicak yang mengeluarkan asap. Kalau cuma tinja, itu mudah. Bikin saja kantong khusus di pantat kuda, sehingga, kalau kudanya berak, kan bisa tertampung di dalam kantong itu. Nanti usaha pembuat penampung tahi kuda ini, dapat juga menjadi peluang bisnis kita. Pokoknya banyak lah. Kau tak perlu khawatir kalau kita rugi. "
"Soal ijin bagaimana?"
"Itu soal gampang. Kau kan termasuk orang yang berpengaruh di kota ini. Siapa sih yang tidak kenal dengan nama dan jabatanmu."
"Kau kok yakin amat sama usaha ini?" karena aku tiba-tiba merasa menjadi amat dibutuhkan untuk pengembangan kuda enterprise padahal aku, kelak, mungkin hanya sekedar meminjamkan ruangan kosong --sambil berharap nantinya akan ada uang sewa untuk masuk kas partai. Dan pemikiran sepositif itupun masih dengan sedikit berat hati.
"Kenapa tidak? Strategi pertama, kita kampayekan saja, kendaraan bermotor itu kendaraan yang menimbulkan polusi. Kita jaring LSM-LSM yang peduli terhadap anti polusi. Kita ajak mereka untuk turun ke jalan. Lalu kita kaitkan juga dengan kenaikan BBM. Jalan keluarnya apalagi kalau bukan berkuda. Kendaraan tanpa bahan bakar dan bebas polusi. Bereskan?!"
Aku mulai paham dengan gagasan Herman. "Lalu, aku akan bekerja sama dengan pemerintah, agar pemerintah juga ada perhatian terhadap ketertiban kuda ini. Misalnya, setiap para penunggang kuda harus memiliki semacam STNK, SIB, atau Surat Ijin Berkuda. Paling penting adalah pajak dan aturan berkuda. Kalau sudah menyangkut pajak dan retribusi, pemerintah pasti membuka peluang. Ini kan proyek. Becak saja begitu, apalagi kuda."
Sampai selepas dhuhur, Herman masih berceloteh tentang rencana yang melambung itu. "Coba kau bayangkan, jika nanti kota ini sudah dipenuhi kuda. Setiap pagi orang di kota ini akan melihat para eksekutif memacu kuda. Pakaiannya perlente, berdasi, tetapi kendaraannya Kuda tanpa polusi. Wah, hebat, orang pakai dasi, sambil berkuda..ha...ha....haa. Bayangkan, Bung! Bayangkan!"
Aku ikut tersenyum kecil membayangkan Gubernur dengan safarinya berkuda, lantas Direktur BNI pakai dasi berkuda, Ibu Walikota berkebaya dan bersanggul, juga berkuda. Yang paling asyik mungkin melihat Kapolda pakai seragam polisi ngebut berkuda dengan Pangdam, terus topi Pangdam lepas terhembus angin dan terinjak kuda di belakangnya, yang dipacu seorang mahasiswa yang terlambat berunjuk rasa ke Gedung DPRD. Ini pasti akan lebih lucu dari Srimulat. Aku mulai menikmati ide Herman.
"Lalu?"
"Ya, lalu, kita akan membuka kursus bagi para calon penunggang kuda. Dan yang lulus akan segera mendapat SIB. Mereka dinyatakan berhak mengendarai kuda."
"Lalu?"
"Kau ini hanya bilang lalu, lalu...terus. Ini bukan lalu, tapi Kuda Enterprise."
"Iya, aku ngerti. Tapi aku perlu konsep yang jelas. Jangan berani-berani babi," sambil aku membayangkan di Gedung DPRD kuda-kuda parkir kayak di film-film koboi. Lantas bagaimana kalau ada orang yang salah ambil kuda?

"Kemudian, kalau nanti kendaraan kuda ini makin berkembang, pasti harga kuda akan semakin tinggi. Sebab, hukum ekonomi mengatakan, semakin banyak permintaan, harga akan semakin naik. Dan saat itu, sudah waktunya, kita membuka show room kuda kelas tinggi. Kendaraan bis akan diganti dengan kereta kuda. Para orang kaya, akan berbondong-bondong ke show room untuk membeli kuda pilihan. Kita akan buat masyarakat yang mencintai kereta kuda."
"Sudah kau pikirkan kalau juragan bis protes?" aku menyahut dingin, sedikit cemas kalau angan-angan kudaku yang sudah semakin asyik jadi lenyap begitu saja.
"Ya itu tadi. Kita hantam mereka dengan isu polusi dan pencemaran udara. Lagian, kita akan mendapat simpati, kalau kita mau ikut kampaye anti polusi dan pencemaran udara."
"Kalau mereka mengancam akan menghabisi Kuda-kuda kita! Kuda kita dibunuh misalnya?" Aku makin kuatir membayangkan juragan bis menghimpun para supir bis dan kenek bis plus orang-orang yang gagal lulus Surat Ijin Berkuda. Mereka bunuh kuda-kuda itu dan dimakan rame-rame di tengah lapangan.
"Ini memang resiko terburuk. Tetapi, kalau kita punya banyak massa, kita bentuk saja LSM peduli binatang. Yah LSM yang akan membela hak-hak asasi binatang Kuda. Kalau ini dapat bentuk, mereka akan mati-matian membela, karena mereka tidak rela kalau kuda harus dibunuh." Jawaban Herman membuat aku seidkit lega lagi dan aku sepertinya makin punya banyak argumentasi untuk menjelaskan kepada pemimpin paratai pusat tentang potensi meminjamkan --dan kelak menyewakan-- ruang kosong partai kepada Kuda Enterprise.
Herman sendiri sudah terbang jauh, melepas soal tehnis jauh di belakang sana. "Tapi, sebelumnya, kita mesti bentuk Lembaga yang bertugas untuk memantau para penunggang Kuda. Ya, bisa kita namakan Horse Watch, atau apa lah yang penting ada watch-nya, gitu."
Soal lain seandainya kuda-kuda pada sakit, tentu harus ada rumah sakit kuda dan dokter spesialis kuda. Semuanya sudah direncakan Herman dengan rapi. "Ya, kalau sudah cukup modal, kita dirikan saja rumah sakit khusus Kuda.Kita sediakan layanan apap saja. Sejak pemeriksaan kehamilan Kuda, Persalinan, dan proses pengembangannya. Ini juga peluang bagi bisnis kita. Kita akan membuka pusat pembelajaan yang menyediakan segala peralatan dan aksesoris kuda. Pelana, sepatu kuda, tali, kantong penampung tinja, dan aksesoris kuda lainnya."
"Kalau ada pemasok kuda liar yang kualitasnya lebih dari kuda-kuda kita bagaimana?"
"Ini memang agak sulit. Tapi tak perlu diresahkan. Kita bermain dari izin impor kuda. Kita akan tanamkan orang-orang kita untuk menghambat keluarnya impor kuda dari luar daerah. Katakan saja, dalam otonomi daerah, semua kebijakan harus ditentukan oleh Pemerintah daerah sendiri. Termasuk perijinan impor Kuda."
"Caranya?"
"Mudah saja. Berikan peluang masyarakat untuk mengembangkan Kuda. Dan kuda induknya harus mengambil dari show room kita. Kalau masyarakat sudah banyak menjadi pemelihara kuda, akan mudah kita mendesak agar pemerintah tidak mengeluarkan ijin impor kuda. Ya, katakan saja ini akan merusak perekonomian masyarakat, terutama bagi para peternak Kuda. Kan Beres!"
Aku sebenarnya sudah cukup lelah mendengar ocehan Herman sejak pagi, tapi sedikit tertarik juga dengan ide gilanya, sekaligus mencari penjelasan yang lebih mantap karena aku harus yakin sebelum bisa meyakinkan orang lain dalam soal kantor tadi. Untung Istriku sedang pulang kampung, jadi aku uji juga gagasan Herman itu.
"Man, kau bilang, kita akan dirikan rental kuda. Lalu SDM-nya dari mana?"
"Itu gampang. Aku kan punya banyak kawan yang bisa diberdayakan. Mereka kita suruh saja bekerja pada kita. Soal gaji, itu bisa kompromi. Teman-temanku tak pernah bertanya soal gaji. kalau upahnya di bawah UMR. Kita katakan saja, kita baru merintis. Atau, mereka bisa memandang aku sebagai teman mereka. Jadi, itu soal mudahlah."
"Kalau sampai upah mereka di bawah UMR, itu sama saja kau pakai ideologi kuda. Ini sama halnya kita sedang mengkudai teman sendiri, dong."
"Ya, bukan begitu, Bung. Ini kan tahap awal. Yang pasti, kita tuntut mereka adalah kerja profesional. Ya, kalau saja, gaji mereka tidak mencukupi, ya kita ijinkan saja mereka menerima aplop atau tips dari para pelanggan."
" Wah, kayak wartawan amplop saja."
" Ya, itu risiko. Kalau wartawan jadi kudanya si pemilik modal, apa tidak lebih baik menerima aplop saja. Atau kalau mau mempertahankan idealismenya, ya keluar saja. Di tempatku juga begitu." Herman tersenyum masam. Dia punya koran dan dia anggap para wartawannya seperti kuda tunggangan. Gajinya di bawah UMR, tetapi kerjanya sampai tengah malam dan paginya sudah diminta meliput lagi. Tidak heranlah dia paham betul soal kuda karena mengkudai para wartawannya.
"Nah, ini proposalnya," katanya mantap. "Ini kau serahkan ke DPP. Jadi usaha ini, katakan saja bagian dari pemberdayaan ekonomi rakyat melalui partaimu."
Aku kembali diingatkan. Ini bukan soal angan-angan atau lucu-lucuan, pikirku. "Wah, ini bahaya, Man. Kalau DPP sampai tahu akal bulusmu, aku bisa dipecat sebagai pimpinan partai. Itu mencoreng namaku di mata pendukung partai. Ini tidak bisa."
" Ini hanya tawaran, Bung. Lagi pula, lima tahun ke depan kau kan tidak akan memegang partai ini. Ya, kalau kau tidak sepakat dengan gagasan ini, aku akan cari orang lain saja."
"Bung," Herman menepuk pundaku mencoba menenangkan kegalauan yang sedang berkecamuk. Antara memilih ya dan tidak untuk menggolkan proposal Herman ke DPP, "kau yakin sajalah, pihak Pusat tidak akan mengetahui usaha ini. Mereka hanya akan bangga jika usaha ini maju. Lain tidak. "
Akhirnya aku putuskan Kuda Enterprise cuma sekedar cerita lucu ketika aku sedang kesepian ditinggal istri yang pulang kampung. "Man sebenarnya, aku tertarik dengan gagasanmu itu. Tapi aku tak setuju dengan akal bulusmu mempolitisir partai untuk kepentingan bisnis."
"Alaaah, idealis lagi! Ketua Dewan saja bisa mengeluarkan surat Sakti. Apalagi kau yang punya massa di cabang-cabang partai. Kenapa mesti takut?"
"Tidak bisa, Man,'' kataku tegas karena waktu semakin beranjak ke tengah malam. Aku sudah capai berangan-angan tentang kuda dan angan-agan itu sudah makin kehilangan lucunya. Aku mau masuk kamar dan tidur lelap. Syukur-syukur mimpi kuda.
Herman terdiam, menghela napas panjang dan minta pamit. Ia ambil kembali proposalnya. Tanpa salam, ia meninggalkan rumahku. Kecewa.
Tapi setahun kemudian, usaha Kuda Enterprise Ltd. benar-benar terwujud. Tidak jelas bagaimana ceritanya. Produk Kuda Enterprise Ltd. ada di setiap sudut kota. Aku tahu kalau dibalik kesuksesan itu Herman akan segera digugat karyawannya. Upah para karyawan belum standar UMR. Tapi dia tidak tahu kalau aku yang sebenarnya menggagas usaha menghancurkan nama Herman. Dan orang-orang pun mengenal Herman sebagai pimpinan yang otoriter. Direktur Utama Kuda Eenterprise Ltd. memperlakukan karyawannya seperti kuda. Dan aku sedikit puas ketika Herman akhirnya diadili dengan dakwaan menindas karyawan. Orang-orang berteriak memprotes ke DPRD. Beberapa spanduk terbentang, ada yang bertuliskan : "Hancurkan perusahaan kuda." Yang lain "Bubarkan perusahaan yang yang mengkudai karyawannya."
Tapi, sungguh, sebenarnya aku tak terlalu puas. Kuda Enterprise Ltd. bisa saja tutup, bisa saja dihancurkan atau dibakar. Sedang mentalitas meng-kudai, apa bisa diberantas? Entah!
***

read more...

Cerpen Kerbau Desa Peralihan

pustaka online | 4:57 PM | Be the first to comment!
Cerpen Kerbau Desa Peralihan

binginrupit.com - Kerbau di Desa Peralihan sama saja dengan kerbau-kerbau lainnya. Yang berbeda adalah kerbau itu tinggal di Dusun Peralihan, di kawasan di pinggir selat Sunda. Tentang kapan kerbau sampai di Desa Peralihan tak ada yang tahu persis. Ada yang bilang, kerbau Desa Peralihan asalnya dari negeri Belanda, dibawa Asisten Redana asal Belanda waktu jaman penjajahan dulu. Namun ada juga pendapat yang yakin kerbau Desa Peralihan datang dari tempat yang tidak diketahui entah dimana, lalu dijadikan tumbal, sebagai sesaji pencegah banjir. Menurut mereka, yang yakin tadi, banjir yang menimpa Desa Peralihan adalah simbol kemarahan Dewa.
Jadi sejak itu seekor kerbau itu berhasil menghentikan banjir, maka kerbau dipercaya sebagai dewa penolong. Warga pun menyembah-nyembah kerbau. Kalau kerbau berak, orang segera berbondong-bondong berebut memunguti tainya, dan menyimpan di dalam lemari es. Besok paginya, tai dingin itu dijadikan sesuhunan, sebagaimana mereka menyembah Tuhan.
Tapi paska kemerdekaan, ada larangan memelihara kerbau dari lurah baru, anak sulung dari lurah lama, cucu dari lurah yang lebih lama. "Sejak hari ini saya melarang dengan keras pemeliharaan kerbau. Kerbau adalah binatang yang susah diajak kompromi. Binatang ini, tidak mengetahui tempat yang bersih karena mandinya sajapun pakai lumpur. Kalau kerbau terus dipelihara, jelas akan merusak citra Desa Peralihan di Kabupaten Sukamenang", begitulah instruksi Lurah Desa Peralihan di hadapan ribuan warga yang berdesak-desakan di Balai Desa.
"Sekarang yang mesti kita pelihara adalah upaya melestarikan lingkungan hijau. Oleh sebab itu saya minta semua warga Desa Peralihan segera mengganti Kerbau dengan tanaman. Nah, supaya tidak simpang siur dan kacau balau, kita putuskan memelihara Pohon Wuringin," sambung Lurah Desa Peralihan semakin mantap. Ia goyangkan sedikit pecinya pakai kedua tangan, dan meneruskan pidato dengan sejarah Pohon Wuringin.
"Pohon Wuringin menurut nenek moyang kita bisa membawa berkah di kemudian hari. Dulu sebelum kita lahir, pohon ini merupakan sesembahan para leluhur. Oleh sebab itu jika tidak memelihara pohon ini sama saja dengan membunuh warisan leluhur," jelas Lurah Desa Peralihan, seperti pakar sejarah dadakan.
Instruksi ini menimbulkan protes warga. Kelompok pertama menentang larangan pemeliharaan kerbau. "Ini tidak bisa diterima. Larangan Lurah jelas melanggar hak asasi pemeliharaan binatang," kata seorang warga. Sedang kelompok kedua sebenarnya setuju dengan larangan kerbau, dan masuk jugalah ke dalam kelompok ini orang-orang yang tidak perduli dengan larangan kerbau tapi tak setuju dengan tanaman tunggal Pohon Wuringin. "Sesembahan kita selama ini bukan hanya Pohon Wuringin saja. Ini jelas melanggar kebebasan untuk memeluk agama atau kepercayaan." Ada juga kelompok ketiga, yang jumlahnya paling sedikit. Mereka tidak perduli larangan kerbau dan juga tidak perduli Pohon Wuringin, tapi menentang segala bentuk perintah pemerintah. "Ini otokratis, dan jelas tidak bisa kita diamkan."
Esoknya seorang pegiat kelompok ketiga mengumpulkan warga Desa Peralihan di pinggir sungai. "Pelarangan ini, jelas bentuk penindasan baru. Kita tidak bisa menerima begitu saja perintah Lurah . Kita harus melawannya", kata pegiat itu di hadapan sekitar seratus tujuh puluh warga dari segala kelompok yang memprotes instruksi lurah.
Tapi muncul persoalan baru. Tidak semua yang protes berani terus terang. Warga Desa Peralihan makin terpecah-pecah lagi. Masing-masing kelompok terpilah-pilah menjadi dua sub kelompok. Di satu pihak adalah mereka yang takut sama ancaman Lurah, dan mereka pun berbondong-bondong menjual kerbau ke pasar dan membeli Pohon Wuringin di koperasi, yang dikelola keponakan Lurah Desa. Tetapi bagi warga yang berani protes --walau ada yang sebelumnya sama sekali tidak suka kerbau-- mereka tetap memelihara kerbau.
Bagaimanapun lima tahun kemudian, Lurah Desa Peralihan yang menang. Para warga yang protes, entah dari kelompok yang manapun, kalah total karena Lurah Desa memotong putus jalur-jalur pendukung pemeliharaan kerbau. Semua kubangan lumpur di Desa Peralihan ditimbun dengan kerikil, lantas padang-padang rumput dijaga Hansip Desa sepanjang dua puluh empat jam, dan tai kerbau langsung diamankan petugas kebersihan desa sehingga tidak sempat diambil dan disimpan di dalam lemari es. Memelihara kerbau jadi sulit, juga tak ada insentifnya.
Di malam hari upaya yang lebih tegas untuk mensukseskan penghentian pemeliharaan kerbau dilakukan Barisan Pemuda Peralihan, yang dipimpin adik bungsu Lurah Desa. Setiap malam anggota Barisan Pemuda Peralihan, dengan badge Pohon Wuringin di sebelah dada bagian kiri jaket hitamnya, berkeliling desa untuk razia kerbau. Pernah dalam satu malam enam belas orang pendukung pemeliharaan kerbau diciduk Barisan Pemuda Peralihan.
Dua hari kemudian sembilan orang sudah kembali ke rumahnya dan langsung menjual kerbaunya, lantas tiga orang pindah ke desa tetangga, yang tidak perduli warganya mau memelihara kerbau, kucing, kelinci ataupun menanam Pohon Sawo, Durian atau Akasia. Satu orang, yaitu pegiat yang dulu sempat mengumpulkan para warga di tepi sungai, diajukan ke pengadilan karena waktu diambil Barisan Pemuda Peralihan ditemukan ada buku Madilog karangan Tan Malaka di balik bantalnya. Sedang sisa tiga lainnya tak ketahuan nasibnya. Ada yang bilang mereka pindah ke kabupaten lain, tapi ada juga kabar-kabar kalau mereka sudah dihabisi Barisan Pemuda Peralihan.
Kerbau memang benar-benar berhasil dilibas Lurah Desa Peralihan. Pelan-pelan kerbau hilang dari Desa Peralihan. Di sisi lain Pohon Wuringin mendapat dukungan luar biasa. Lurah Desa Peralihan mendirikan layanan pemotongan ranting, jadi warga tinggal melaporkan ke Balai Desa kalau ranting Pohon Wuringinnya sudah terlalu melebar kemana-mana. Pupuk urea dibagikan secara gratis tanpa batasan. Juga ada kompetisi Pohon Wuringin setiap tahun dan pemenangnya mendapat piala miniatur Pohon Wuringin yang terbuat dari tembaga. Bahkan setiap pidato Lurah Desa Peralihan selalu dimulai dan diakhiri dengan 'Suburlah Pohon Wuringin, Suburlah Desa Peralihan.''
Dan dalam setiap acara apapun, baik rapat umum di Balai Desa, pidato kelompok PKK, maupun membuka pertandingan tarik tambang di lapangan sepakbola, Lurah Desa Peralihan selalu mengumbar senyum kemenangan. Ia merasa menjadi orang yang paling berhasil merubah kepercayaan Desa Peralihan. Kerbau yang sebelumnya menjadi sesembahan warga Desa Peralihan sudah menjadi sejarah. Semakin banyak saja orang yang mengagung-agungkan Pohon Wuringin. Dukungan Lurah Desa Peralihan makin bertambah. Sudah tiga kali Lurah Desa Peralihan mendapat piagam penghargaan sebagai pemimpin teladan.

Namun memasuki tahun ketujuh, kekuasaan Lurah Desa Peralihan mulai tergerogoti. Krisis keuangan pelan-pelan menohok kas Desa Peralihan dan Lurah tak bisa lagi meneruskan kebijakan pembagian pupuk tanpa batas, sementara layangan pemotongan ranting sudah dihapuskan, dan piala tahunan ditiadakan. Pohon Wuringin mulai gangguan karena daunnya, yang sudah tidak disapu oleh dinas kebersihan desa, menutupi semua jalanan desa. Menantu Lurah Desa pernah pula terpleset karena menginjak daun Wuringin yang basah dan dirawat di Rumah Sakit sampai satu minggu lebih karena geger otak. Pohon Wuringin pelan-pelan menggeser jadi bencana.
Pada saat bersamaan tak ada lagi kiriman batu kerikil sehingga kubangan mulai muncul, dan hansip desa tidak bisa lagi menjaga padang rumput sampai dua puluh empat jam karena tidak dapat uang kopi tambahan. Kerbau-kerbau dari desa tetangga yang awalnya meraja-rela di padang-padang rumput Desa Peralihan, dan karena kerbau itu berak dimana-mana, mulailah ada orang yang mengumpulkan tainya untuk disimpan di lemari es, dan dijadikan sesuhunan. Mula-mula secara kecil-kecilan dan belakangan terang-terangan.
Karena insentif tai kerbau berkembang lagi, maka orang Desa Peralihan kembali bersemangat memelihara kerbau. Harga kerbau sempat meningkat satu setengah kali lipat selama satu bulan sebelum pemerintah kabupaten mengirimkan stok khusus ke Desa Peralihan untuk mengendalikan harga kerbau di tingkat kabupaten. Lurah Desa yang sempat tak perduli sama perdagangan kerbau akhirnya keluar juga dari kantornya untuk menerima kiriman kerbau dari Bupati. "Saudara-saudara, saya tidak suka kerbau tapi kalau aspirasi rakyat memang kerbau, saya siap mendukung sepenuhnya,'' kata Lurah Desa Peralihan. Dia goyangkan pecinya pakai tangan kirinya dan dia lanjutkan dengan pidato tentang ramalan banjir dan kerbau.
"Dinas Metereologi minggu lalu menyerahkan prakiraan banjir badang yangdatang setiap delapan tahun sekali. Kita harus bersiap-siap menghadapinya, dan diperkirakan bulan depan musim hujan mulai turun," jelasnya mantap. Dihitungnya kerbau kiriman Bupati, dan ditanda-tanganinya tanda terima. "Lima ratus ekor. Komisi satu ekor dua ratus ribu perak... sudah cukuplah untuk ganti mobil baru,'' gumamnya sambil berbalik masuk ke kantor.
Kerbau Desa Peralihan sama saja dengan kerbau-kerbau lainnya. Lurah Desa Peralihan juga sama dengan lurah-lurah lainnya. Tetapi, kerbau tetap saja kerbau, lurah tetap saja lurah. Keduanya tak bisa berbuat banyak. Hanya sekedar simbol keagungan yang di-sembah-sembah. Dan ketika warga Desa Peralihan terhempas dengan masa paceklik, kerbau --dan juga lurah-- tak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya mengoek layaknya kerbau yang ada di kandang.
Orang-orang pun kembali mengingat masa kejayaan Lurah Desa Peralihan. Kerbau tetap saja Kerbau. Di Desa Peralihan, sepertinya kerbau apapun --termasuk kerbau wasiat yang dulu katanya pernah menangkal banjir-- tidak bisa berbuat banyak. Sementara Pohon Wuringin yang mulai musnah menjalar kembali ke perut bumi, namun setiap waktu akan bersemi kembali. Dan kebesaran tak banyak bisa berbuat. Sebab kewibawaan atau kharisma kerbau --dan lurah-- cuma warisan nenek moyang
***


read more...

Cerpen kalina

pustaka online | 4:55 PM | Be the first to comment!
Cerpen kalina
 
binginrupit.com - Kalina puteri Balkan. Gadis ayu ini lebih pantas menjadi anakku. Atau sekurang-kurangnya adalah keponakanku. Umurnya baru dua puluh tahun. Tidak sampai separuh dari usiaku yang 43 tahun ini. Sesungguhnya.
''Benarkah kamu serius ingin mengawini saya?''
''Hmm... Kenapa bertanya begitu?
''Aku ingin meyakini macam-macam perasaanku.
Perasaanmu. Atau mungkin perasaan kita.''
''Jika aku menjawab ya, apakah kamu...?''
''Heh... Tentu saja aku tak mau!''

Sudah sekian kali aku mengajukan proposal kawin pada Kalina. Tak pernah ia menyetujuinya. Untuk kesekian kali aku tak bosan-bosan merayunya. Yang kesekian kali juga ia tak bosan menolaknya.


    Kawan-kawan, terus terang sesungguhnya aku tidak serius merayu Kalina. Hah, menikahinya?! Ho oh, tak mungkin... itu semua tak mungkin. Aku masih mempunyai kewarasan kelakian. Sebuah kewarasan yang kujadikan senjata bagi surviveku. Kewarasan yang amat aku bangga-banggakan.
 
    Kewarasan mengajarkan perbedaan kontras tentang kultur masyarakatku yang senantiasa kuusung sampai di negeri ini. Seorang calon istriku mestilah taat dalam ajaran agama. Ia juga pandai mengurus suami. Bisa mengatur budget keuangan keluarga. Ia pun harus pintar mengambil hati supaya bisa masuk ke dalam sanubari selera keluargaku. Selera masyarakatku. Negeriku.
 
    Pada diri Kalina, satu pun tak ada yang pas dengan kriteria tersebut. Bahkan sangat berjauhan. Kalina tidak bakal bisa mau mengerti tuntutan dan pelbagai tetek-bengek itu. Konsep perkawinannya, menurut reka-rekaku, sebatas pada kepentingan dia dan suaminya. Atau dia dengan anak-anaknya, itu pun jika ia memang ingin memiliki anak.
Ah, persetan betul dengan kewarasan! Aku menyukai Kalina. Titik. Aku tidak bakal mau memperisterinya. Titik. Aku mau senang-senang saja. Titik. Aku tidak mau terikat tetek-bengek birokrasi, misalnya administrasi pernikahan apapun dengan dia. Titik. Semua, jika
bisa harus kubuat titik. Titik.
 
     Jika bung-bung paham, sebenarnya konsepsiku sudah jelas. Aku tahu apa yang kuinginkan. Aku tahu apa yang harus kuhindarkan. Semua ada di kepalaku. Semua ada pada rancanganku. Aku sangat mengerti kecantikan Kalina. Tubuhnya langsing semampai. Rambutnya lurus melewati bahu. Matanya biru meniru langit. Tatapannya acap membikin jantung berdebar-debar. Belum lagi bibirnya...
 
     Kalina memang sangat pintar bermain cinta.Ia selalu membuatku lupa segala-galanya. Lupa umur. Lupa waktu. Lupa ruang. Lupa status. Lupa kenyataan potensi kelakianku.
Aku dan Kalina sering bepergian ke luar kota. Berdua saja. Musim semi lalu kami pergi ke Lembah Mawar, Kazanlek. Lalu memutar perjalanan ke sebuah kota kecil tempat wisata: Bansko yang berjarak 160 km dari Sofia. Ini kunjungan kami yang kesekian. Di sini kami biasa melakukan pendakian. Mendaki bukit. Mendaki cinta.
Sebuah kota bangunkan kita
Kamu ngelantur main cinta
Tubuhku meluncur dari ketinggian bukit
Bagai bola salju menghantam tiang-tiang troly
Di musim dingin nanti
Aku tergelincir di bibirmu beku
Kita akhirnya terbakar
Kota mendamparkan kenyataan
kewanitaanmu janjikan cahaya
kelakianku kembali masa purba
Aku belajar tentang kegelisahan
Gelisah adalah kelahiranku
...
Yang kubawa berlari di pebukitan Balkan
dan menghempaskannya ke sejumlah susu
Sampai pada masa karam
di atas malam bersuhu nol
pada sebuah peristirahatan ketinggian Bansko
Di situ kita jatuh dan aku bergulingan
dengan bayangku yang dimangsa embun
 
    Aku suka geli jika membaca catatan percintaanku dengan Kalina itu. Setiap saat, jika catatan itu kubaca secara sengaja atau tidak sengaja, rinduku langsung menyentuh langit. Bagai remaja belasan tahun, akupun memburunya ke mana saja. Setelah bertemu, biasanya kencan kami jadi jauh lebih ambisius.
 
     Kalina mewarisi kecantikan Slav. Aku merasa beruntung menetap di Balkan. Bersyukur mengetahui kemolekan gadis-gadisnya. Satu di antaranya adalah kau, Kalina.
Bung, padamu kukatakan, Kalina jauh lebih memikat dibandingkan empat percintaanku di Yogya dulu. Kalina memiliki kecantikan yang berpotensi meruntuhkan iman. Aku senantiasa menemukan kelakianku pada tubuhnya. Sementara di Yogya dulu, masa percintaan lebih diisi dialog budaya, diskusi kehidupan dan membeber kata-kata yang sesungguhnya sia-sia.
Tidak ada tidur bersama. Paling sekadar berciuman. Itu pun musti di tempat yang tersembunyi dari pandangan publik.
 
    Masa lampauku memang membutuhkan itu. Masa kiniku memerlukan tuntutan lain. Cinta kubentuk lewat tubuh. Lewat bibir. Lewat ranjang. Bukan lewat kata-kata. Atau nurani. Atau norma dan nilai "ketimuran" (Aku begitu alergi dengan istilah ini).
Bung, ada juga aku mendengar tipikal wanita seperti Kalina banyak di Jakarta sekarang ini. Bahwa mereka gampang diajak tidur. Gampang dicium di sembarang waktu dan tempat. Tetapi, bung, aku sangat tak yakin kecantikan mereka bisa mengimbangi Kalina.
 
    Permainan cinta Kalina pun jauh lebih piawai! (Bung menduga, komparasi ini tentu berdasarkan pengalaman empiris. Aku jawab: Masya Allah!). Aku tidak mengada-ada.
Kalina bagai penari. Tahu kapan dan kemana jari-jemarinya memetik berahi. Menyapu nafasku. Membuatku terbang. Menyadarkan kelakianku. Pada gilirannya Kalina otomatis telah membangkitkan vitalitas kerjaku sebagai manager perusahaan ekspor-impor pakaian jadi.

***
    Kalina puteri Balkan. Gadis ayu ini lebih pantas menjadi anakku. Atau sekurang-kurangnya adalah keponakanku. Umurnya baru dua puluh tahun. Tidak sampai separuh dari usiaku yang 43 tahun ini. 
     
     Sesungguhnya.Kalina tiba-tiba mengejutkan. Dia datang tidak dengan jati dirinya yang lain. Matanya menatap tajam, menghunus sebuah nafsu. Semula kutafsirkan ia ingin mengajakku tidur. Atau menawarkan gagasan mengajakku ke luar kota. Liburan musim panas.
Konsepsiku tentang Kalina segera berantakan. Membuatku panas dingin. Ketidakpercayaan. Ketakutan. Was was. Cemas. Ragu-ragu. Curiga. Aku menduga-duga mana yang harus kuyakini.
 
    Kalina minta dinikahi! Karena alasan ekonomi.Ayahnya kena PHK gara-gara bank tempatnya bekerja bangkrut. Inflasi Bulgaria merajalela. Mata uang keras, terutama US$, dengan perkasa menginjak daya mata uang negeri mereka, Leva. Jika 3 bulan sebelumnya US$ 1 = Lv 75, kini menjadi Lv 190. Harga-harga membubung ke langit pekat.
''Masa alasan ekonomi begitu membuatmu berubah?''tanyaku.
''Kamu menolak? Terserah. Kita bisa pisah sekarang!''
 
     Aku seketika tahu Kalina benar-benar serius. Diam-diam dia pun menyadari keberpuraanku mengajaknya menikah dulu. Dia pun mengetahui tipikal lelaki penipu seperti apa aku. Ya, aku memang suka berpura-pura. Aku memang egois. Sesungguhnya aku memang tidak pernah serius. Kecuali aku sangat serius untuk bermain-main.
Kalina pergi meninggalkan ultimatum. Aku hanya diberi waktu 24 jam memberi keputusan. Tidak ada kompromi lagi. Tidak ada basa-basi. Tidak ada senda gurau. Ada pertanyaan. Maka harus ada jawaban. Absolut.
 
     Aku benci dengan situasi ini. Semula kupikir ini akan mudah. Aku cukup mengatakan "Tidak". Lalu cao-cao. Dan aku bisa mencari burung Balkan lain yang bisa menjadi pelipur sunyi. Toh, apa sih susahnya mencari wanita seperti Kalina di sini. Ibarat mencari warung tegal di Jakarta.
Tapi aku menyadari bahwa tubuhku sulit menerima wanita lain kecuali Kalina. Aku sudah mendapatkan tipikal wanita yang kucari saat ini. Aku tidak bakal bisa tenang tanpa merasakan baunya. Bibirnya. Tubuhnya...
 
     Bung, akhirnya aku menyadari kelemahanku ini. Betapa aku didominasi oleh selera murah kaum lelaki. Bahwa aku tak lebih pemuja seks. Bahwa aku ternyata juga lelaki absolut.
Semula ajakan perkawinan kujadikan permainan. Sekarang tidak bisa lagi. Kini aku dituntut untuk serius dengan permainan itu. Aku tak bisa bermain-main dengan keseriusan itu.
 
     Aku belum mempunyai keputusan menerima atau menolak Kalina. Aku tahu aku masih membutuhkan tubuhnya. Aku tahu aku tidak membutuhkan administrasi pengesahan hubungan kami. Aku tak menganggap perlu lembaga perkawinan. Paling tidak buat Kalina.
Bung, aku sempat terpikir untuk menerima ajakan Kalina. Menikah. Dengan begitu aku bisa 
    
     tetap memiliki tubuhnya. Bahkan jadi lebih permanen. Soal ekonomi dia, terpecahkan. Soal biologisku, menemukan solusi. Dia senang, aku pun begitu.
Tetapi masalahnya, aku tak siap menerima cercaan keluargaku, teman-temanku, kerabat-kerabatku. Masyarakatku. Negeriku. Sebab mereka menganggap aku lebih pantas menikah dengan seorang perawan Melayu.
 
   Hah, keperawanan?! Omongan busuk apa lagi ini.Walau hati kecilku memang menginginkan itu. Lelaki sebrengsek aku masih membutuhkan status perawan istriku? Lalu Kalina?
Sebelum tidur denganku, Kalina sudah biasa melakukannya dengan macam-macam lelaki. Katanya, dia memulai hubungan seks sejak berusia 14 tahun-- sesuatu yang amat lumrah bagi masyarakat Kalina. Sesuatu yang sangat tidak lumrah bagi masyarakat aku.
Aku sendiri? Sejak dua puluh tahun lalu aku mulai mengenal hubungan seks. Pertama kali dengan Bibi Sita, istri dari teman Pakde Kardjo yang aku lupa namanya. Itu terus berlanjut. Jika dihitung, hingga kini aku sudah meniduri minimal 99 wanita. Mereka dari pelbagai etnis. Macam-macam bangsa.
 
   Aduh, Kalina, kau berikan soal super pelik padaku. Kau semburkan ide gila pernikahan. Sesuatu yang amat memuakkan aku. Melemahkan mentalku. Meluruhkan semangat hidupku. Membuka kedok kepalsuanku. Menguak tabir catatan buruk jalan hidupku.
Bung-bung, aku pun sempat terpikir untuk lari saja dari soal Kalina. Aku membencinya. Aku mau muntah.
 
    Masa deadline dari Kalina tinggal sesaat lagi.Semalaman aku tidak bisa tidur. Beribu cerita mengalir di kepalaku. Biografi hidup dia menjulur satu persatu dari memoriku.
Sampai pada saat yang kritis. Adalah bayangan Kalina menampar libidoku. Kisah winter yang lalu. Dalam memori itu, Kalina menarik dan mencomoti mantel dan pakaianku pada sebuah lift blok apartemenku. Bibir Kalina memerah. Lembut. Sesegar cocktail. Dan aku ingin mengunyah sopska salata ...
***

read more...

How Low Can You Go

pustaka online | 4:49 PM | Be the first to comment!
Cerpen How Low Can You Go

binginrupit.com - Reaksi kimia, mengalir dalam darahku bagaikan gelombang. Puncak titik api menyiramkan peluh bersenyawa lautan. Rajam mesin-mesin suara melintas memekakkan. Aku jadi lilin menggeliat, meliuk pada bara apinya. Tubuh penuh peluh meleleh berdecak seirama gelombang. Reaksi kimia menyeretku lepas, aku ingin bercinta.
tentang ceritanet
 
    Masih dengan irama, dia disampingku tersenyum tergerai. Dia peluk aku dengan ikatan dingin menggigil separuh waktu. Dia cium aku dengan menggigit seluruh mulut ditelannya. Dia natap aku, sama saling bersorot tajam. Kita saling bergoyang se irama kuda, tanpa letih menggeliang. Reaksi kimia menyeretku sadis, aku terangsang. Walau aku tahu seberapa dangkal untuk sekedar dibuyarkan. Semua anganku diletihnya jauh tanpa sejarah yang patut ditiru. Rendahnya nyali jika ditatap dengan kesedihan, dikejar tapi nasib menjauh. Hanya reaksi kimia yang serba tahu dimana letak kelonggaran. Dia aku telan, dia aku kunyah, dan dia aku biuskan pada sejengkal titik darah kimia.
 
    Mesin suara berlanjut, dia malu-malu menyelinap di nadi nafsu. Tapi perlu waktu untuk jinakkan sinyal-sinyal kebutuhan. Seketika sekedar cairan libido menggerayang melayang di ruang-ruang hampa. Aku rasakan, semakin keras seiring mesin suara yang semakin sombong. Kepala tajam tiba-tiba menggerayang aku, terlepas lamunan. Aku bagai lilin api, semakin meleleh di bola lampu yang remang-remang. Aku telanjang. Kita seirama, tatapanku hanya hitam. Tak ada suara, hanya lamat-lamat mendorongku untuk bercinta. Aku mainkan dekapan jiwanya, dengan tanpa perantara. Aku manfaatkan bola lampu remang untuk semakin menjilat. Dia semakin menekan, reaksi kimia membawaku pada bara api kegirangan.
 
   Tanpa ragu, tanpa busana menggadaikan pada ketinggian derajat yang semakin kecil untuk ditatap dari bawah. Bagai cabik yang menekan beban, tempatku buatmu tidak jauh berbeda. Diriku, dirimu adalah sejiwa dalam sel perkelaminan. Aku semakin mendengus seperti bisik ular yang lapar. Hanya nafas yang tertekan karena ini hanya sebagian tersederhana dari totonan malam.
 
    Silahkan mencicipi, pada remang malam dan hawa asap tembakau mengepul di udara. Tanpa hening di skat-skat bangku warna serat merah. Sorot tajam lampu perak pada peraduan sederhana. Irama mesin suara semakin tertelan karena pelan, hawa nafas dipandu penghuni ruang. Aku orgasme.
 
   Gelap mata sepengalir reaksi kimia yang menuntunku untuk beratraksi lain. Sepertinya sengaja menuntunku pada gerakan babak-babak baru yang semakin menantang. Penghuni ruang tertegun melihat sang ratu ayu dinobatkan pada sebuah singgasana. Dan ratu itu menjingkat semakin cepat untuk menggerang. Atraksi terpengah sejalan aku kekelahan. Kini aku terlentang.
 
   Entah siapa, dia tersenyum tersipu. Masih menatapku semusim peradaban yang manusiawi. Hanya sejengkal insting primitif untuk sekedar modal menemani tidur. Tidak jauh berbeda setengah panggung kita telah meleleh. Hawa asin lautan menyilaukan kita pada ketakutan diri sendiri. Aku telah menyepakati bahwa sangat resiko jika membatasi pada profesi-profesi yang normatif. Dosa milik siapa ?, miliknya yang tiba-tiba menelanku lagi di peluknya.
 
   Aku tidak puas, semakin sadis dengan mesin suara yang tidak terhenti. Penghuni ruang semakin ereksi, hanya deru nafas yang menggiring pada perkhayalan sendiri-sendiri. Mereka masih diam mengikuti adegan. Adalah hak azasi untuk berfikir tentang pertalian dua anak bapak seorang Adam dan Hawa. Telah membuat iri para setan dalam surga ketika bercumbuan di alam terbuka. Terlalu istimewa karena anak dan bapak saling menindih, wajar jika hubungan ini diprotes pada Tuhan suatu saat.
 
    Saat yang paling tepat. Aku melengking di udara, menukik pada rongga kerongkonan yang kehausan. Lepas tanpa batas untuk ditembus waktu. Mengupas reaksi kimia pada puncaknya. Tanpa seutas tali penghubung atau pemisah antara aku di udarayang harus dipotong pada sebuah adegan. Dia memberi hujan dengan air hangatnya setetes jatuh di tali pusar perut. Warnanya silau karena kepastian alam. Dia mengikuti gerakkan yang aku putar sendiri.
 
    Sementara aku masih di udara untuk meyakinkan skenario besar penuh penjiwaan pada sebuah peradaban. Mesin suara semakin cepat menuju ke puncak diakhiri dengan gerakan memutar di temali-temali selendang maya. Aku memaksa, penonton semakin terkesima. Tampak di teropong selama diudara, penghuni rung terkesima, menahan sedetik nafas tanpa suara. Lamat-lamat aku bisa mendengar detak jantung yang merambat. Mereka menyambutku dengan asap, seperti dupa di areal pemujaan para arwah-arwah moyangnya.
 
    Aku diam tak bergerak terlentang pada papan yang diselimuti lilin-lilin. Cahaya lampu dipadamkan dan selambu lebar dengan dikait tali menutupi panggung. Penghuni ruang keluar dengan pikiran menggoda, untuk berbuat sesuatu yang paling purba. Reaksi kimia kini tinggal menunggu detik-detik gelombang, yang menyembur pada gumpalan darah pelan-pelan. Tanpa reaksi apa-apa, hanya sekujur tubuh ditanduk berjuta ton tumbukan. Hawa dingin menyelimuti tulangh-tulang.
 
     Seseorang menatap, samar aku pastikan dia dari perwujutannya. Tidak meleset tidak jauh beda dengan seseorang yang melayaniku tiap malam, di atas panggung dikerubuti para penghuni ruang. Seseorang melata menjauh, aku panggil dengan sebutan engkau. Minimal serupa dengan manusia, tapi dia tidak ada.
Adaptasi Slank
read more...

cerpen Daging Rendang di 36 G

pustaka online | 4:46 PM | Be the first to comment!
cerpen Daging Rendang di 36 G

     binginrupit.com - Romo, seorang PhD Politik Timur Tengah asal Solo, tak suka makanan pesawat terbang, makanya dia berencana bawa bekal sendiri ; nasi plus lauk rendang untuk perjalanan dari Jakarta ke London. Di dalam pesawat, di angkasa raya kira-kira di atas daratan Asia Selatan, ia buka lauk rendang dan nasinya di meja. Orang yang duduk di sebelah ngeliatin dan malah minta --dia panggil pramugarinya, dan nyuruh makanan pesawat ditarik kembali. Eh yang di kursi belakang mencium bau rendangnya, melongok, dan ikut minta juga --dia teriak lagi manggil pramugari untuk menarik makanan pesawat.
Orang di sebelah kursi yang di belakang tadi itu kaget, ''lho kok aromanya enak''. Iapun memanggil pramugari, minta menu yang sama. Tapi pramugarinya bilang lha itu bukan menu pesawat ; ''sana tuh minta sama yang duduk di 36 G." Tapi rendangnya Romo sudah habis, dan orang itu protes keras mukul-mukul sendok dan piring plastik pemberian pesawat. Dua orang anak Amerika, berusia sepuluh dan delapan tahun, yang sedang dalam perjalanan liburan yang bosan duduk terpaku di pesawat langsung semangat ''wah ini baru jalan -jalan ,'' dan mereka ikut menimpali gendang sendok dan piring plastik ala si bapak yang protes tadi. Sayangnya seorang kakek tua yang sedang berusaha tidur malah terbangun. Dia marah-marah sama kedua anak itu, cuma cara marah-marahnya keterlaluan, karena pakai sumpah serapah segala. Turun tanganlah ibu kedua anak yang membalas caci maki si kakek tua yang dianggapnya kurang ajar. Pramugari pun sibuk melerai. Semua orang menyaksikan insiden itu --termasuk si Romo.

     Saat itulah orang yang duduk di sebelah yang duduk di belakang kursi Romo tadi mencuri rendang, dan dia pun tenang. Romo habis menonton perkelahian antra si ibu dan bapak tua, yang berhasil dilerai si pramugari, balik ke kursinya, menemukan nasi rendangnya sudah tandas. ''Oalah, baru makan sedikit sudah lenyap.''
***
     Sepekan kemudian, akibat pengalaman daging rendang itu, orang yang duduk di sebelah kursi belakang Romo --yang protes pakai sendok dan piring plastik sebelum nyuri rendang-- jadi mikir. "Ah bawa makanan Inggris ah". Dibawanyalah kentang goreng plus ikan alias fish'n chips, dan ia sengaja minta kursi 45 D --yang persis di tengah biar semua orang mencium aromanya. Cilakanya di sebelah kirinya duduk cewek Italia asal Sisilia, sedang di sebelah kanan pasangan suami istri Spanyol asal Barcelona.

Begitu tiba jam makan, si pencuri rendang yang dulu itu langsung menolak makanan pesawat, dan dia buka fish'n chips. Dia tuangkan cuka ke atas kentang gorengnya, dan langsung si cewek Sisilia dan pasangan Barcelona muntah-muntah. Penumpang di kursi depan --pemegang paspor Rumania-- terkena muntahan dan marah-marah ke si cewek Italia, dan si cewek Italia yang merasa malah diserang secara aroma makanan amis dari sebelah, dan diserang secara omongan kasar dari depan jadi naik pitam. Langsunglah mendidih darah Sisilianya dengan teriak-teriak sama pramugari sampai pilot mendengar. Pilot kepala menyuruh co-pilotnya keluar untuk mengamankan. Si co-pilot, asal London Timur, keluar dari cockpit dan menyaksikan cewek Sisilia sedang menunjuk barisan pramugari sambil teriak-teriak ala mafia Sisilia. Maka co-pilot pun berusaha menenangkan, untung orang Sisilia ; "kasih saja anggur merah kelas satu," pikirnya, dan ia menggandeng si cewek Sisilia yang berambut pirang tadi ke cockpit, duduk tenang sambil minum anggur merah Chateau of Bourbon keluaran 1986.
 
    Melihat perlakuan kepada si cewek Italia, pasangan Spanyol langsung marah-marah gaya Barcelona dan minta pindah ke cockpit. Pilot bingung karena di cockpit semua kursi sudah penuh, termasuk kursi cadangan yang sudah diduduki sama cewek Italia. Dia pun keluar, menarik tangan co pilot dan berteriak ke pasangan Barcelona, di hadapan seluruh penumpang. ''Kalau kalian mau masuk ke sana, hayo masuk sana, biar saya dan co pilot keluar dan ada dua kursi di sana. Hayo cepat kalian masuk ke cockpit,'' pekiknya.

    Giliran penumpang lain yang marah-marah --sesuai dengan gaya masing-masing-- sama pasangan Barcelona karena dianggap membahayakan nyawa seluruh penumpang, dan awak pesawat. Kali ini pramugari yang turun tangan dengan mengajak pasangan Barcelona ke ruang pramugari di ujung ekor pesawat, juga dapat anggur merah, tapi cuma buatan Boulogne Wine Factory, keluaran 1999. Barulah suasana tenang, dan si pencuri rendang yang membawa fish n'chips itu minta tolong agar bekas muntahan dibersihkan sebelum dia nikmati lagi fish'n chips dengan lahap.
***
    Sebenarnya seorang ibu asal Tunisia yang duduk di belakang pembawa fish'n chips agak keberatan juga dengan bau cuka. Cuma ibu berkerudung itu diam saja berhubung kuatir kalau terjadi lagi kehebohan yang baru saja ia saksikan. Lagipula anggur merah --buatan apapun dan tahun berapapun-- haram hukumnya. ''Sudahlah, semua orang kan punya hak untuk memilih makanan sendiri,'' kata ibu itu di dalam hatinya, sambil menelan kembali ludah kental yang nyaris terloncat keluar dari mulutnya.
***

read more...

cerpen Anak Saya Terjebak Jaring Laba-Laba

pustaka online | 4:43 PM | Be the first to comment!
cerpen Anak Saya Terjebak Jaring Laba-Laba 

    binginrupit.com - Empat tahun lalu, anak saya lahir pada Jumat subuh. Proses kelahirannya normal. Seperti kelahiran anak Anda. Dia menangis keras. Dari jarak 235 kilometer, dia berbisik: Abah, saya melihat matahari yang redup. Saya melihat manusia memakan manusia. Saya melihat karbondioksida mendesak oksigen yang membuat manusia dan kambing kering bagai padang pasir. Lanjutnya, Abah apakah saya harus belajar dari semua itu. Jika benar, saya ingin pulang ke rahim ibu. Saya tidak mau masuk ke jarring laba-laba ini. Saya ingin membangun negara di surga. Para malaikat setiap saat akan menyanyikan tembang kemerdekaan. 
     
    Sayangnya, setelah empat tahun, anak saya tidak dapat menolak hidup di negara ini. Janji manis setelah Soeharto jatuh, terus ditekuninya sebagai gambar-gambar robot dan kapal terbang. Ya, dia harus mengalami pembesaran, pelebaran, dan kematian. Anak saya mandi. Telanjang. Dia kencing. Air seninya mengalir, membentuk peta di kamar mandi. Ada ribuan gajah bergerak di peta tersebut. Kaki-kaki gajah itu menghantam tanah. Retak. Roboh pohonan. Gunung-gunung gemetar. Tikus-tikus lari ketakutan seperti mesin pencuci tua. Sapi-sapi menjelma menjadi lonte. Macan dan harimau menjadi kucing, dan sembunyi di rumah-rumah para pemilik pabrik. 
    
    Semuanya sepi bagai kandang ayam yang meledak. Para gajah telah bangkit. Mereka ingin menindas manusia. Aksi balas dendam. Setelah puas menghancurkan manusia di Indonesia, mereka mengadakan kongres di Muara Takus, Jambi. Mereka menyusun rencana menyerang gedung PBB di New York dan menghancurkan ratusan instalasi nuklir serta pabrik-pabrik makanan instant. Tiba-tiba, seekor gajah kecil, tampak lemah, dan kulitnya berwarna coklat muda, memperingatkan teman-temannya, "Saya setuju dengan rencana ini. Tapi saya minta kita jangan menggunakan senjata api. 
      
    Jika menggunakan senjata api, artinya kita sama dengan manusia." Semua gajah setuju. Mereka tidak memakai senjata api. Mereka hanya mengandalkan massa tubuh dan kekebalan kulit. Layaknya ribuan Samson membunuh ribuan tentara Mesir. Sayangnya, ketika gajah-gajah itu baru menginjakan kakinya ke kota New York, anak saya menarik tangan saya. Hujan belum turun. Anak saya lelaki. Wajahnya hampir 100 persen mirip ibunya. Hidungnya rendah, dan berkulit hitam. Sebagai lelaki, apakah dia boleh menindas perempuan, tanya istri saya. Sulit juga menjawabnya. 
     
    Sistem social dan politik yang ada saat ini memungkinkan lelaki menindas perempuan. Mengeksploitasi perempuan seperti sabun mandi. "Tergantung nanti. Tergantung maunya Tuhan," jawab saya sebagai lelaki tradisional. Istri saya tidak puas. Dia berhenti memasak, dan dibiarkannya anak saya telanjang. Matanya melotot. Ujarnya, lelaki harus setara dengan lelaki. Kesalahan sejarah, sejak anak-anak pembiasan gender itu sudah dibangun. Saya bingung. Anak kembali masuk ke kamar mandi. 
      
    Lantas, inikan kehendak system yang ada? Tidak bisa! Tidak bisa. Sistem ini harus diubah. "Saya percaya, kesadaran feodal ini akan musnah. Saya percaya," katanya, terus menggoreng ikan laut. Anak saya masuk ke bak mandi. Istri saya berteriak. Saya masuk ke bak mandi. Dunia ternyata bukan hanya kerja dan memantau perilaku. *** Anak saya menggambar rumah. Katanya, saya akan membuka toko. Saya akan membagikan makanan kepada setiap orang yang datang. Tanpa uang. Dari mana makanan itu? Banyak orang yang akan menyumbang, katanya lagi. Tak ada jalan yang pasti. 
     
    Saya berteriak. Saya ingin menjadi seorang ibu! Melahirkan ratusan anak yang kemudian menembaki kapal terbang yang melintas di atas rumah kami. Saya tahu, dan saya mohon Tuhan, jangan biarkan anak saya melompat dari lantai 78 dari sebuah gedung di Tokyo. Saya masuk ke rumah, dan membakar kertas tisu. Abu.
read more...

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

 
Copyright © 2017 PUSTAKA ONLINE • All Rights Reserved.